Kamis, 21 April 2016

TUGAS ILMU TANAH - SUISTAINABLE AGRICULTURE UNHAS


NAMA                 : SYAHRULLAH
NIM                     : G211 15 312
KELAS                : C ( DASAR-DASAR ILMU TANAH)

1.      What it’s sustainable agriculture ?
Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) adalah pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources) untuk proses produksi pertanian dengan menekan dampak negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin.
2.      Praktik sustainable agriculture dalam pertanian rakyat?
Beberapa kegiatan yang diharapkan dapat menunjang dan memberikan
kontribusi dalam meningkatkan keuntungan produktivitas pertanian dalam jangka
panjang, meningkatkan kualitas lingkungan, serta meningkatkan kualitas hidup
masyarakat pedesaan adalah sebagai berikut:
1.      Pengendalian Hama Terpadu
Pengendalian Hama Terpadu merupakan suatu pendekatan untuk mengendalikan
hama yang dikombinasikan dengan metode-metode biologi, budaya, fisik dan
kimia, dalam upaya untuk meminimalkan; biaya, kesehatan dan resiko-resiko
lingkungan. Adapun caranya dapat melalui;
·         Penggunaan insek, reptil atau binatang-binatang yang diseleksi untuk mengendalikan hama atau dikenal musuh alami hama, seperti Tricogama sp., sebagai musuh alami dari parasit telur dan parasit larva hama tanaman.
·         Menggunakan tanaman-tanaman “penangkap” hama, yang berfungsi sebagai pemikat (atraktan), yang menjauhkan hama dari tanaman utama.
·         Menggunakan drainase dan mulsa sebagai metode alami untuk menurunkan infeksi jamur, dalam upaya menurunkan kebutuhan terhadap fungisida sintetis.
·         Melakukan rotasi tanaman untuk memutus populasi pertumbuhan hama setiap tahun .
2.      Sistem Rotasi dan Budidaya Rumput
Sistem pengelolaan budidaya rumput intensif yang baru adalah dengan
memberikan tempat bagi binatang ternak di luar areal pertanian pokok yang
ditanami rumput berkualitas tinggi, dan secara tidak langsung dapat menurunkan
biaya pemberian pakan. Selain itu, rotasi dimaksudkan pula untuk memberikan
waktu bagi pematangan pupuk organik. Areal peternakan yang dipadukan
dengan rumput atau kebun buah-buahan dapat memiliki keuntungan ganda,
antara lain ternak dapat menghasilkan pupuk kandang yang merupakan pupuk
untuk areal pertanian.
3.      Konservasi Lahan
Beberapa metode konservasi lahan termasuk penanaman alur, mengurangi atau
tidak melakukan pembajakan lahan, dan pencegahan tanah hilang baik oleh erosi
angin maupun erosi air. Kegiatan konservasi lahan dapat meliputi:
·       Menciptakan jalur-jalur konservasi.
·       Menggunakan dam penahan erosi.
·       Melakukan penterasan.
·       Menggunakan pohon-pohon dan semak untuk menstabilkan tanah.
4.      Menjaga Kualitas Air/Lahan Basah
Konservasi dan perlindungan sumberdaya air telah menjadi bagian penting dalam
pertanian. Banyak diantara kegiatan-kegiatan pertanian yang telah dilaksanakan
tanpa memperhatikan kualitas air. Biasanya lahan basah berperan penting dalam
melakukan penyaringan nutrisi (pupuk anoraganik) dan pestisida. Adapun
langkah-langkah yang ditujukan untuk menjaga kualitas air, antara lain;
·  Mengurangi tambahan senyawa kimia sintetis ke dalam lapisan tanah bagian atas (top soil) yang dapat mencuci hingga muka air tanah (water table).
·  Menggunakan irigasi tetes (drip irrigation).
·  Menggunakan jalur-jalur konservasi sepanjang tepi saluran air.
·  Melakukan penanaman rumput bagi binatang ternak untuk mencegah peningkatan racun akibat aliran air limbah pertanian yang terdapat pada peternakan intensif.
5.      Tanaman Pelindung
Penanaman tanaman-tanaman seperti gandum dan semanggi pada akhir musim
panen tanaman sayuran atau sereal, dapat menyediakan beberapa manfaat
termasuk menekan pertumbuhan gulma (weed), pengendalian erosi, dan
meningkatkan nutrisi dan kualitas tanah.
6.      Diversifikasi Lahan dan Tanaman
Bertanam dengan memiliki varietas yang cukup banyak di lahan pertanian dapat
mengurangi kondisi ekstrim dari cuaca, hama penggangu tanaman, dan harga
pasar. Peningkatan diversifikasi tanaman dan jenis tanaman lain seperti pohon-pohon dan rumput-rumputan, juga dapat memberikan kontribusi terhadap
konservasi lahan, habitat binatang, dan meningkatkan populasi serangga yang
bermanfaat. Beberapa langkah kegiatan yang dilakukan;
·         Menciptakan sarana penyediaan air, yang menciptakan lingkungan bagi katak, burung dan binatang-binatang lainnya yang memakan serangga dan insek.
·         Menanam tanaman-tanaman yang berbeda untuk meningkatkan pendapatan sepanjang tahun dan meminimalkan pengaruh dari kegagalan menanam sejenis tanaman saja.
7.      Pengelolaan Nutrisi Tanaman
Pengelolaan nutrisi tanaman dengan baik dapat meningkatkan kondisi tanah dan melindungi lingkungan tanah. Peningkatan penggunaan sumberdaya nutrisi di lahan pertanian, seperti pupuk kandang dan tanaman kacang-kacangan
(leguminosa) sebagai penutup tanah dapat mengurangi biaya pupuk anorganik
yang harus dikeluarkan. Beberapa jenis pupuk organik yang bisa digunakan
antara lain:
·       Pengomposan
·       Penggunaan kascing
·       Penggunaan Pupuk Hijauan (dedaunan)
·       Penambahan nutrisi pada tanah dengan emulsi ikan dan rumput laut.
8.      Agroforestri (wana tani)
Agroforestri merupakan suatu sistem tata guna lahan yang permanen, dimana
tanaman semusim maupun tanaman tahunan ditanam bersama atau dalam rotasi
membentuk suatu tajuk yang berlapis, sehingga sangat efektif untuk melindungi
tanah dari hempasan air hujan. Sistem ini akan memberikan keuntungan baik
secara ekologi maupun ekonomi. Beberapa keuntungan yang diperoleh dari pengelolaan lahan dengan system agroforestri ini antara lain:
·            Dapat diperoleh secara berkesinambungan hasil tanaman-tanaman musiman dan tanaman-tanaman tahunan.
·            Dapat dicegah terjadinya serangan hama secara total yang sering terjadi pada tanaman satu jenis (monokultur).
·            Keanekaan jenis tanaman yang terdapat pada sistem agroforestri memungkinkan terbentuknya stratifikasi tajuk yang mengisi ruang secara berlapis ke arah vertikal.
Adanya struktur stratifikasi tajuk seperti ini dapat melindungi tanah dari hempasan air hujan, karena energi kinetik air hujan setelah melalui lapisan tajuk yang berlapis-lapis menjadi semakin kecil daripada energi kinetik air hujan yang jatuh bebas.
3.      Tantangan Suistainable agriculture?
Masalah dan tantangan yang dihadapi dalam sistem pertanian berkelanjutan yaitu:
a.         Membangun pemerintah yang baik dan memposisikan pertanian sebagai sektor andalan perekonomian nasional.
Cara penyelenggaraan pmerintah yang baik(good goverment) sangat diperlukan dalam pelaksanaan pembangunan pertanian yaitu; bersih (clean), berkemampuan(competent), memberikan hasil positif(credible), dan secara publik dapat dipertanggung jawabkan(accountable). Pembangunan pertanian akan berhasil bila diawali dengan cara penyenggaraan pemerintah yang baik, dimana pemerintah merupakan agen pembangunan yang sangat menentukan keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana membangun pemerintah yang bersih, berkemampuan, berhasil dan dapat dipertanggung jawabkan.
b.        Mewujudkan kemandirian pangan dalam tatanan perdagangan dunia yang bebas dan tidak adil.
Kecukupan pangan merupakan masalah hidup dan matinya suatu bangsa, sehingga kemandirian pangan merupakan prioritas tujuan pembangunan pertanian. Tantangan ke depan yang dihadapi dalam rangka mewujudkan kemandirian pangan adalah meningkatnya derajat globalisasi  perdagangan dunia yang tidak adil.
Kecukupan pangan merupakan masalah hidup dan matinya suatu bangsa, sehingga kemandirian pangan merupakan prioritas tujuan pembangunan pertanian. Tantangan ke depan yang dihadapi dalam rangka mewujudkan kemandirian pangan adalah meningkatnya derajat globalisasi  perdagangan dunia yang tidak adil.
Di negara Indonesia juga menghadapi permasalahan dalam negeri yang berkaitan dengan produksi pangan yaitu:
1.             Upaya meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi jumlah petani gurem, sementara pada saat bersamaan muncul gejala pelambatan produktivitas dan penurunan nilai tukar petani;
2.             Upaya mempertahankan momentum pertumbuhan tinggi produksi pangan dan membalikkan kecenderungan deselerasi pertumbuhan produksi menjadi akselerasi;
3.             Upaya mengatasi fenomena ketidakpastian produksi; dan
4.             Upaya meningkatkan daya saing produk pangan.
c.       Mengurangi jumlah petani miskin, membangun basis bagi partisipasi petani dan pemerataan hasil pembangunan
Krisis multidimensi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 telah mengakibatkan jumlah penduduk miskin pada tahun 1998 melonjak. Apabila hal ii dikaitkan dengan fakta bahwa sebagian besar mata pencaharian penduduk di wilayah pedesaan bergantung pada sektor pertanian, maka hal ini berarti bahwa permasalahan kemiskinan terkait dengan sektor pertanian.
d.   Meningkatkan pertumbuhan sektor pertanian
Pertumbuhan sektor pertanian sangat dibutuhkan untuk mengakselerasi perekonomian pedesaan. Sektor pertanian Indonesia, hingga saat ini masih sangat tergantung pada hasil primer, sehingga nilai tambah yang diperoleh masih sangat rendah dan kurang kompetitif di pasr dalam negeri maupun luar negeri.
Pemerintah harus dapat mendorong perkembangan produk pertanian olahan primer, selain untuk meningkatkan nilai tambah juga meningkatkan dan memperluas pangsa pasar di dalam dan luar negeri. Negara berkembang penghasil produk pertanian, saat ini banyak yang melakukan pengembangan produk pertanian untuk mensiasati perdagangan dunia yang tidak adil.
Apabila hal ini dapat dilakukan maka sektor pertanian akan tumbuh dengan cepat dan tinggi lagi dibandingkan dengan yang telah selama ini dicapai. Pertumbuhan sector pertanian yang makin cepat akan memacu pertumbuhan sector-sektor lain secara lebih cepat melalui kaitan ke belakang dan ke depan dalam kegiatan produksi dan konsumsi. Dengan demikian, sektor pertanian akan lebih dikenal sebagai pengganda tenaga kerja, dan bukan sekedar pencipta kesempatan kerja.
e.       Membangun system agribisnis terkoordanatif
Struktur agribisnis kita saat ini dapat digolongkan sebagai tipe dispersal. Struktur dispersal dicirikan oleh tiadanya hubungan organisasi fungsional disetiap tingkatan usaha. Jaringan ahribisnis praktis hanya diikat dan dikoordinir oleh mekanisma pasar (harga). Hubungan diantara sesama pelaku pelaku agribisnis praktis bersifat tidak langsung dan impersonal. Dengan demikian pelaku agribisnis hanya memikirkan kepentingan diri sendiri dan tidak menyadari bahwa mereka saling membutuhkan. Bahkan hubungan diantara pelaku agribisnis cenderung berkembang menjadi bersifat eksploitatif yang pada akhirnya menjurus ke kematian bersama.
Tiadanya ikatan institusional, asosiasi pengusaha yang bersifat asimetri, kemampuan bisnis yang tidak berimbang (kutub hulu, yaitu petani, bersifat serba gurem; sedangkan kutub hilir, yaitu agroindustri dan eksportir, bersifat serba kuat) ditambah pula sifat intrinsik permintaan dan penawaran komoditi pertanian yang sangat tidak elastis membuat rantai vertical agribisnis bersifat dualistic (Bell and Tai, 1969). Struktur agribisnis yang bersifat dulistik inilah yang menytebabkan masalah transisi dalam agribisnis (Simatupang,1995).
f.         Melestarikan sumber daya alam dan fungsi lingkungan hidup
Permasalahan lingkungan hidup yang dihadapi banyak berkaitan dengan penurunan kualitas lingkungan di wilayah hulu yang berakibat langsung pada kualitas lingkungan di wilayah hilir. Meningkatnya permintaan lahan akibat pertumbuhan penduduk selain menyebabkan penurunan luas baku lahan pertanian yang meningkatnya intensitas usahatani di daerah aliran sungai (DAS) hulu. Penurunan luas baku lahan pertanian, khususnya lahan sawah, yang telah berlangsung sejak paruh kedua decade 1980-an, saat ini cenderung makin besar seiring dengan peningkatan konversi ke non pertanian, khususnya di pulau Jawa,. Pada beberapa tahun terakhir, luas baku lahan sawah di luar Jawa juga telah mengalami penurunan.
g.        Membangun system iptek yang efisien
Permasalan utama yang dihadapi oleh Indonesia berkaitan dengan pemanfaatan IPTEK pertanian adalah belum terbangunnya secara efisien system IPTEK pertanian mulai dari hulu (penelitian tinggi dan strategi) sampai hilir (pengkajian spesifik lokasi dan diseminasi penelitian kepada petani). Efisiensi IPTEK di sektor pertanian ini perlu dibangun melalui sinkronisasi program litbang pertanian mulai dari hulu sampai hilir dan sinkronisasi program litbang pertanian dengan lembaga penelitian lainnya. Selain itu, efisiensi system IPTEK pertanian ini perlu didukung dengan sistem pendidikan pertanian yang mampu menghasilkan peneliti yang berkemampuan (competent) dan produktif (credible). Juga perlu dibangun kembali sistem penyuluhan petani yang lebih efektif dan efisien.
4.      Perbedaan pertanian berkelanjutan dengan revolusi hijau pertanian ?
Tabel berikut menyajikan secara garis besar perbedaan antara rovolusi pertanian modern dengan pertanian berkelanjutan:
Rovolusi Pertanian Modern
Pertanian Berkelanjutan
Sangat tergantung pada kemajuan inovasi teknologi
Sangat tergantung pada manajemen, pengetehauan serta keterampilan petani
Membutuhkan investasi modal yang besar untuk produksi dan pengembangan teknologi
Pada umumnya tidak membutuhkan investasi modal yang besar
Skala pertanian yang cukup luas/besar
Skala pertanian kecil dan menengah
Sistem tanam: monokultur
Sistem tanam: diversifikasi
Penggunaan pupuk dan pestisida kimiawi secara luas
Meminimalisir penggunaan pupuk dan pestisida kimiawi, mengalihkannya dengan pupuk dan pestisida alami
Biaya yang dikeluarkan untuk upah tenaga kerja relatif rendah karena hanya dibutuhkan sedikit tenaga kerja
Biaya upah tenaga kerja lebih tinggi karena dibutuhkan lebih banyak tenaga kerja
Ketergantungan yang tinggi pada penggunaan bahan bakar untuk sumber energi pada produksi pertanian, produksi pupuk, pengepakan, transportasi, dan pemasaran
Penggunaan bahan bakar fosil dalam proses produksi relatif lebih rendah karena minim penggunaan mesin pertanian, tidak memproduksi pupuk kimiawi, dan dalam pemasarannya pun lebih menekankan pada pemasaran secara langsung dan bersifat lokal (areal pertanian dekat dengan konsumen sehingga jalur distribusi lebih pendek dibandingkan dengan sistem pertanian konvensional)

Senin, 21 Maret 2016

dasar agribisnis unhas


Tugas
Dasar-dasar agribisnis


Description: Description: logo-unhas-warna.jpg
 








KELOMPOK V
EVIFIRAYANTI                                                        (G21115026)
KURNIA T                                                                  (G21115027)
IKA PUTRIANA                                                       (G21115040)
NORHATIKA PUTRI ANRIANY                                       (G21115311)
SYAHRULLAH                                                          (G21115312)
ABRAHAM RANDANAN PALAMBA                    (G21115329)
NUR IFTITAH                                                             (G21115519)
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016
A.   Jenis-jenis pestisida dan pupuk yang ramah lingkungan
1)    Pestisida yang ramah lingkungan
Pestisida adalah bahan-bahan kimia yang tidak terlepas dari penggunaannya untuk mengendalikan hama dan jasad pengganggu lainnya. Pestisida tidak saja membawa dampak yang positif terhadap peningkatan produk pertanian, tapi juga membawa dampak negatif terhadap lingkungan di sekitarnya. Pestisida secara umum digolongkan kepada jenis organisme yang akan dikendalikan populasinya. Insektisida, herbisida, fungsida dan nematosida digunakan untuk mengendalikan hama, gulma, jamur tanaman yang patogen dan nematoda. Jenis pestisida yang lain digunakan untuk mengendalikan hama dari tikus dan siput.
Penyemprotan dan pengaplikasian dari bahan-bahan kimia pertanian selalu berdampingan dengan masalah pencemaran lingkungan sejak bahanbahan kimia tersebut dipergunakan di lingkungan. Sebagian besar bahanbahan kimia pertanian yang disemprotkan jatuh ke tanah dan didekomposisi oleh mikroorganisme. Sebagian menguap dan menyebar di atmosfer dimana akan diuraikan oleh sinar ultraviolet atau diserap hujan dan jatuh ke tanah. Oleh karena itu, dibuatkan pestisida yang bebas dari bahan kimia yang akan merusak lingkungan hidup manusia, hewan dan tumbuhan. Macam-macam jenis pestida yang ramah lingkungan tanpa kandungan zat kimia yang terbuat dari berbagai jenis tanaman diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Kaliandra
  •  kandungan : zat tanin ( getahnya )
  •  fungsi : insektisida     
  •  bagian yang digunakan : daun dan kulit batang
  •  sasaran hama/penyakit : walang
  •  sifat racun : racun perut
Description: Kaliandra
2. Babadotan leutik
  • Kandungan : minyak terbang
  • Fungsi : insektisida
  • Bagian yang digunakan : cabang dan daun
  • Organisme hama sasaran : kumbang hama gudang
  • Sifat racun : anti feedant
Description: Bandotan
3. Lidah buaya
  • Fungsi : fungisida
  • Bagian yang digunakan : daun ( juice/gel )
  • Sasaran hama/penyakit : layu leher akar
Description: Lidah Buaya
4. Pinang
  • Fungsi : nematisida
  • Bagian yang digunakan : daun dan biji
  • Sasaran hama/penyakit : bintil akar
  • Sifat racun : narkotika
Description: Pinang
5. Jukut lokot mala
  • Fungsi : insektisida
  • Bagian yang digunakan : daun dan biji
  • Sasaran hama/penyakit : belalang dan kupu-kupu
  • Sifat racun : antifeedant
Description: Jukut Lokot Maya
 6. Belimbing wuluh
  • Fungsi : insektisida
  • Bagian yang digunakan : daun
  • Sasaran hama/penyakit : bercak coklat
  • Sifat racun : anti jamur
Description: Belimbing Wuluh

Description: C:\Users\Nirmawati Muhtar\Documents\AGRIBISNIS\semester 2\dasar dasar agribisnis\tugas kel ...1\search for dda pestisida\Pembuatan Pestisida Organik atau Bio-Pestisida_files\bawangmerah.jpg
7. Bawang merah :
  • Fungsi insektisida, bagian yang digunakan : daun, umbi. Sasaran hama/penyakit : aedes triseriatus
  • Fungsi fungisida, bagian yang digunakan : daun, umbi. Sasaran hama/penyakit : layu leher akar, bercak daun kering.
  • Fungsi bakterisida, bagian yang digunakan : daun, umbi. Sasaran hama/penyakit : bakteri bintil akar.
Description: Bawang Putih
8. Bawang putih :
  • Fungsi insektisida, bagian yang digunakan : daun, umbi. Sasaran hama/penyakit : aedes triseriatus
  • Fungsi fungisida, bagian yang digunakan : daun, umbi. Sasaran hama/penyakit : layu pucuk/petek, bercak kering.
  • Fungsi bakterisida, bagian yang digunakan : daun, umbi. Sasaran hama/penyakit : bakteri bintil akar

Description: Laos
9. Laos
  • Fungsi bakterisida, bagian yang digunakan : umbi / rimpang. Sasaran hama/penyakit : bakteri bintil akar.
  • Fungsi fungisida, bahan yang digunakan : umbi/rimpang. Sasaran hama/penyakit : layu leher akar.

Description: Sirsak
 10. Sirsak
  • Kandungan : buah yang mentah, biji, daun, dan akar : mengandung senyawa annonain, biji mengandung minyak 42-45%
  • Fungsi : insektisida
  • Bagian yang digunakan : daun, biji, akar
  • Sasaran hama/penyakit : kutu daun, ulat perusak daun, ulat grayak, dan hama gudang.

Description: Srikaya
11. Srikaya
  • Kandungan biji : 42-45% lemak, annonain, dan resin.
  • Fungsi : insektisida
  • Bagian yang digunakan : daun, biji, dan akar
  • Sasaran hama/penyakit : kutu daun, kupu-kupu ulat sutra, ulat grayak, ulat batang/ penggerek batang. 



2)    Jenis pupuk yang ramah lingkungan
a)    Pupuk hijau
Pupuk hijau adalah pupuk yang terdiri dari daun-daunan yang mudah membusuk dalam tanah. Daun-daunan dapat langsung dimasukkan ke dalam tanah sebagai pupuk hijau. Unsure hara yang terdapat pupuk hijau misalnya n, p, k dan unsure lainnya. Contoh pupuk hijau yang mudah didapat adalah sisa hasil pertanian. Sisa hasil pertanian banyak mengandung unsure-unsur yang dibutuhkan tanaman. Pengembalian sisa tanaman diperlukan untuk mengembalikan unsure-unsur yang diambil tanaman untuk pertumbuhannya kembali lagi ke lahan pertanian. Upaya ini untuk menjaga kesuburan tanah.
Pengembalian sisa tanaman perlu memperhatikan agar proses peruraian bahan organic tidak mengganggu tanaman musim tanam berikutnya. Penanaman tanaman sebaiknya menunggu proses peruraian sempurna. Pada saat proses peruraian bahan organic jika terdapat tanaman bisa menyebabkan tanaman rusak. Perlu diperhatikan agar proses peruraian bahan organic tidak mengganggu kesehatan tanaman. Proses peruraian bahan organic tergantung jenis bahan/sisa tanaman.
b)    Pupuk kompos
Kompos adalah peruraian bahan organic oleh jasad renik (mikrobia). Pemberian kompos tidak hanya memperkaya unsure hara bagi tanaman. Namun juga berperanan dalam memperbaiki struktur tanah, tata udara dan air dalam tanah. Mengikat unsure hara dan memberikan makanan bagi jasad renik yang ada dalam tanah sehingga meningkatkan peran mikroba dalam menjaga kesuburan tanah.
c)    Pupuk  kandang
Pupuk kandang merupakan pilihan pupuk organic yang bisa dimanfaatkan. Kandungan unsure hara dalam pupuk kandang tersebut tergantung dari jenis ternak dan makanan ternak yang diberikan air yang diminum, umur ternak, dll. Hindarkan pemakaian pupuk kandang yang masih babru sebab pupuk kandang yang masih baru belum masak benar dan suhunya masih tinggi.
d)    Pupuk cair
Banyaknya kandungan unsure hara yang ada di dalam lahan pertanian yang ada di lahan saudara dapat dilihat secara sederhana dari penampakan warna tanaman di lahan saudara. Misalnya, ada tanaman yang kelihatan hijau sementara yang lainnya terlihat kekuningan. Tanaman hijau menggambarkan bahwa tanah tersebut mempunyai cukup unsure hara. Sedangkan tanaman yang berwarna kuning biasanya menunjukkan bahwa tanah tersebut tidak  cukup mempunyai unsure hara.
Untuk memudahkan unsure hara dapat diserap tanah dan tanamna bahan organic dapat dibuat menjadi pupuk cair terlebih dahulu. Pupuk cair menyediakan nitrogen dan unsure mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Seperti halnya pupuk nitrogen kimia. Kehidupan binatang di dalam tanah juga terpacu dengan penggunaan pupuk cair. Pupuk cair tersebut dapat dibuat dari kotoran hewan yang masih baru. Kotoran hewan yang dapat digunakan misalnya kotoran ka,mbing, domba, kelinci atau ternak lainnya.
e)    Pupuk daun
 pupuk daun akan menjadikan tanaman lebih baik dan sehat. Pemberiakn pupuk daun diberikan melalui pencampuran pupuk dengan tanah agar diserap melalui akar. Banyak petani menanam yang lebih sehat dengan pemakaian pupuk. Pupuk memberi makan pada tanaman dalam bentuk hara untuk membuat tanaman lebih kuat. Biasanya pupuk dicampur dengan tanah den di serap tanaman melalui perakaran. Pupuk daun masuk ke dalam tanaman melalui lubang-lubang kecil pada daun yang disebut mulut daun (stomata). Lubang-lubang ini membuka dan menutup dan begitu kecil sehingga kita tidak dapat melihatnya.
  tanaman  bernapas melalui lubang-lubang kecil tersebut. Lubang-lubang kecil tersebut juga digunakan tanaman untuk mengambil unsure hara dari udara. Mulut daun ini biasanya tegrbuka sepanjamng malam sampai pagi hari dan tertutup pada tengah hari untuk menjaga kelembaban. 
Mungkin kita sering menggunakan pupuk daun sebagai penembah unsure hara bagi tanaman agar tumbuh lebih sehat dan kuat dan tumbuh lebih cepat sehingga  mampu melawan hama dan penyakit.
Pupuk daun biasanya dibuat dari bahan yang mengandung hara yang diperluka,n tanaman seperti besi, belerang, nitrogen dan kalium. Pemberikan hara tambahan ini pada tanaman akan membantunya tumbuh lebih kuat dan lebih sehat.
Pupuk daun dapat dibuat dari tanaman-tanaman local yang ada di sekitar kita yang mengandung unsure-unsur besi, belerang, nitrogen dan kalium. Tanaman tersebut misalnya sejenis solanum nigrum /  terung lauca.
B.   Pertanian organic
Pertanian organik meliputi dua definisi, yaitu pertanian organik dalam definisi sempit dan pertanian organik dalam definisi luas. Dalam pengertian sempit, pertanian organik adalah pertanian yang tidak menggunakan pupuk kimia ataupun pestisida kimia, yang digunakan adalah pupuk organik, mineral dan material alami. Sedangkan pertanian organik dalam arti luas adalah usahatani yang menggunakan pupuk kimia pada tingkat minimum, dan dikombinasikan dengan penggunaan pupuk organik dan bahan-bahan alami (hong, 1994).
            pertanian organik merupakan suatu sistem pertanian yang didesain dan dikelola sedemikian rupa sehingga mampu menciptakan produktivitas yang berkelanjutan. Prinsip pertanian organik yaitu tidak menggunakan atau membatasi penggunaan pupuk anorganik serta harus mampu menyediakan hara bagi tanaman dan mengendalikan serangan hama dengan cara lain diluar cara konvensional yang bisa dilakukan (eliyas, 2008).
 tujuan utama dari pertanian organik ialah memperbaiki dan menyuburkan kondisi lahan serta menjaga keseimbangan ekosistem. Sumber daya lahan dan kesuburannya dipertahankan  dan ditingkatkan melalui aktivitas biologi dari lahan itu sendiri, yaitu dengan memanfaatkan residu hasil panen, kotoran ternak, dan pupuk hijau. Produk pertanian dikatakan organik jika produk tersebut berasal dari sistem pertanian organik yang menerapkan praktik manajemen yang berupaya untuk memelihara ekosistem melalui beberapa cara, seperti pendaurulangan residu tanaman dan hewan misalnya memanfaatkan sisa tanaman untuk dijadikan   kompos, kotoran ternak sebagai pupuk kandang dan lain sebagainya.  (sriyanto, 2010). 
Prinsip-prinsip dasar pertanian organik
1. Prinsip kesehatan
Pertanian organik harus melestarikan dan meningkatkan kesehatan tanah, hewan, manusia dan bumi sebagai satu kesatuan dan tak terpisahkan. Prinsip ini menunjukkan bahwa kesehatan tiap individu dan komunitas tidak dapat dipisahkan dari kesehatan ekosistem; tanah yang sehat akan menghasilkan tanaman sehat yang dapat mendukung kesehatan manusia dan hewan. 
2. Prinsip ekologi
Prinsip ekologi meletakkan pertanian organik dalam sistem ekologi kehidupan. Prinsip ini menyatakan bahwa produksi didasarkan pada proses daur ulang ekologis.
3. Prinsip keadilan
Pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu menjamin keadilan terkait lingkungan dan kesempatan hidup bersama. Keadilan dicirikan dengan kesetaraan, saling menghormati, berkeadilan dan pengelolaan dunia secara bersama, baik antar manusia dan dalam hubungannya dengan makhluk hidup yang lain. Prinsip ini menekankan bahwa mereka yang terlibat dalam pertanian organik harus membangun hubungan yang manusiawi untuk memastikan adanya keadilan bagi semua pihak disegala tingkatan; seperti petani, pekerja, pemroses, penyalur, pedagang dan konsumen.  
4. Prinsip perlindungan
Pertanian organik merupakan suatu sistem yang hidup dan dinamis yang menjawab tuntutan dan kondisi yang bersifat internal dan eksternal. Para pelaku pertanian organik didorong meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi tidak boleh membahayakan kesehatan dan kesejahteraannya     
(ifoam, 2012).
Pertanian organik menurut ifoam merupakan sistem manajemen produksi terpadu yang menghindari penggunaan pupuk buatan, pestisida dan hasil rekayasa genetik, menekan pencemaran udara, tanah, dan air. Pertanian organik di sisi lain juga berusaha meningkatkan kesehatan dan produktivitas di antara flora, fauna, dan manusia. Penggunaan masukan di luar pertanian yang menyebabkan kerusakan sumber daya alam tidak dapat dikategorikan sebagai pertanian organik, sebaliknya sistem pertanian yang tidak menggunakan masukan dari luar, namun mengikuti aturan pertanian organik dapat
Masuk dalam kelompok pertanian organik, meskipun agro-ekosistemnya tidak mendapat sertifikasi organik. 
Pertanian organik berdasarkan beberapa konsep dan definisi yang telah dijelaskan di atas dapat disimpulkan sebagai sistem usahatani yang mengelola sumber daya alam secara bijaksana, holistik, dan terpadu untuk memenuhi kebutuhan manusia khususnya pangan dengan memanfaatkan bahan-bahan organik secara alami sebagai “input dalam” pertanian tanpa “input luar” tinggi yang bersifat kimiawi, sehingga mampu menjaga lingkungan serta mendorong terwujudnya pertanian yang berkelanjutan dengan prinsip atau hubungan timbal balik. 
C.   Perbedaan antara pertanian organic dengan pertanian konvensional
System pertanian konvensional ini memiliki tujuan untu meningkatkan hasil produksi tanaman dengan penambahan unsur eksternal (pupuk kimia dan pestisida) sehingga didapatkan produksi yang tinggi. Selain itu, teknologi yang digunakan pada system ini telah maju dan berkembang. Namun, dampak positif yang dihasilkan berupa peningkatan produksi tidak bertahan lama. Hal ini karena terjadi penurunan kualitas tanah da penumpukan residu dalam tanah yang dapat meracuni tanaman sehingga system ini dianggap tidak arif lagi. Pada perkembangannya sistem pertanian konvensional ini menerapkan panca usaha tani sebagai acuan pengembangan program yang dilakukan.
Pertanian organik adalah sistem budi daya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis. Beberapa tanaman indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan dengan teknik tersebut adalah padi, hortikultura sayuran dan buah (contohnya: brokoli, kubis merah, jeruk, dll.), tanaman perkebunan (kopi, teh, kelapa, dll.), dan rempah-rempah.
Adapun dampak dari sistem pertanian konvensional di dalam ekosistem pertanian menurut kuswandi (2012) adalah sebagai berikut:
1.    Meningkatnya degradasi lahan (fisik kimia dan biologis),
2.    Meningkatnya residu penyakit dan gangguan serta resistensi hama penyakit dan gulma
3.    Berkurangnya keanekaragaman hayati
4.    Gangguan kesehatan masyarakat sebagai akibat dari pencemaran lingkungan.
 sedangkan dampak yang terjadi di luar ekosistem adalah:
1.    Meningkatnya gangguan kesehatan masyarakat konsumen karena pencemaran bahan-bahan pangan yang diproduksi di dalam ekosistem pertanian.
2.    Terjadi ketidakadilan ekonomi karena adanya praktek monopoli dalam penyediaan saran produksi pertanian.
3.    Ketimpangan sosial antar petani dan komunitas di luar petani.
            cukup singkat dan jelas mengenai perbedaan pertanian organic dengan pertanian konvensional bahwasanya pertanian organic lebih kepada pertanian yang mengutamakan dampak terhadap lingkungan, tidak menggunakan pupuk dan pestisida yang mengandung banyak bahan kimia yang berdampak pada lingkungan makhluk hidup. Sedangkan pertanian konvensional menggunakan pupuk dan pestisida yang mengandung banyak bahan kimia yang dapat berbahaya bagi lingkungan.